Perisai Salawaku

Suluk Kata

Kata-Makna-Rasa

Kali Pekaulang yang Malang

“Dulu anak-anak mandi di situ bisa melompat dan menyelam”

(Kepala Desa Baburino, 27 November 2016)

NOVEMBER yang basah. Tapi ini hari hujan seperti malas jatuh. Di bantaran kali Pekaualang tampak dua ekor sapi duduk malas. Mulutnya tak berhenti mengunyah menatap kali yang mendangkal. Di tempat lain, gumpalan asap mengepul dari parapara kelapa. Seorang ibu paruh baya menguliti batok kelapa. Di sampingnya berserakan kulit kelapa yang terbawa banjir.

Kali Pekaulang tak seperti dulu lagi. Setiap hujang mengguyuri kampung ini sungai ini tak henti memuntahkan isinya keluar, merembesi Pekaulang dan menghanyutkan segala rupa. Beberapa rumah yang tak jauh dari Kali ini terpaksa memindahkan semaian pala ke tempat tinggi. Genangan air tampak di sepanjang bantaran sungai ini. Di beberapa tempat bantaran kali, air berusaha mencari jalannya sendiri. Melewati belukar, membelah kebun-kebun warga.

Foto: Said Marsaoly. Inilah wajah Kali Pekaulang yang malang.

Saluran air yang dahulu tak dilalui air kini mengalir seperti sungai kecil karena menerima limpahan air yang tak lagi melewati alur kali. Beberapa dusun kelapa akhirnya layu dan mati. Padahal, sekitar tahun 70 hingga 80-an sungai ini tak bermasalah. Hal itu tampak pada pertumbuhan kelapa yang tampak normal, subur di tahun itu.

Sebab

Tapi, apa jadinya bila alam hanya dipandang sebagai komoditas. Saat hutan dan kayu jadi rebutan menumpuk rupiah. Maka alam pasti menampakkan kemurkaannya. Hutan di kawasan ini memang menggiurkan para pengusaha kayu.

Kayu-kayu kelas satu dan dua dari dari ulin sampai govasa, dari linggua hingga samama menggiurkan perusahan kayu. Barito Pasifik Sumber Grup dalah salah-satu perusahaan yang tak tahan melihat itu semua. Dengan hasrat rupiah itu, mereka mengarahkan operator-operator senso, alat-alat berat dan pembukaan jalan-jalan baru demi mengeluarkan pohon-pohon dari rumahnya.

Kali Pekaulang yang menjadi penghalang mobilitas kayu ini dibuatkan jembatan dari kayu-kayu ulin raksasa yang dibentangkan berlapis-lapis.

Dan setelah semuanya selesai, juga Barito untung besar dari penebangan besar-besaran itu. Maka, pada medio 90-an jembatan kokoh itu ambruk, runtuh.  Menutupi kali pekaulang tepat di tengahnya. Sejak itulah air mulai mencari jalannya sendiri. Membuat aliran-aliran baru, juga mendangkalkan dirinya sendiri. Sejak tahun 2000-an itulah sungai pekaulang mulai menyerang kebun-kebun warga. Sayangnya, yang diserang bukan perusahan Barito yang dulu melukainya. Tetapi kebun dan dusun kelapa yang tak ada pautan dengan Barito.

Pemulihan

Melihat air sungai telah menggenangi kampung, kebun-kebun dan mengancam keselamatan warga di sekitar kali itu.  Pada tahun 2008 Pemerintah Kabupaten Halamahera Timur lewat Dinas  Pekerjaan Umum melakukan normalisasi. Kegiatan sama dilanjutkan pada tahun berikutnya. Kurang lebih empat tahun sungai ini tampak normal. Hanya sesekali meluap apabila hujan deras. Beberapa dusun kelapa berlahan mulai pulih, beberapa kebun di sepanjang bantaran sungai mulai diperbaiki, dibersihkan, diolah lagi.

Amuk lagi

Namun, sungai sepertinya punya hukum sendiri. Normalisasi yang tak tuntas hingga ke hilir ini memunculkan masalah baru. Muara Kali Pekaulang yang lebih kacil dari badan hulunya tampak tak bisa menampung debit air yang besar dan pekayuan yang terbawa dari hulu. Kini, pekayuan, sabuk kelapa dan batang-batang kayu bekas pemarasan kebun tampak tersendat, sebagian mengendap tak terbawa arus kali.

Maka sejak 2013 anak-anak tak bisa lgi melompat atau menyelam di kali. Sungai ini tampak dangkal. Bagian atas tertutup lumpur.

Dengan jujur mari kita bertanya: bisakah Pengurus Daerah memulihkan lagi kali pekaulang? Bisakah kita bernurani untuk tak lagi menjual kayu jumlah besar pada perusahaan kayu? Bisakah semua kita belajar bersama untuk menjaga kali, merawat dan mengurusnya layaknya anak sendiri? Bisakah November-november mendatang sapi-sapi yang duduk malas di banataran kali tak lagi menatap sungai yang dangkal?

Said Marsaoly

Pekaulang, 27 November 2016

Dapatkan tulisan baru Suluk Kata lewat surel:

Tulisan lain