
Oleh: M Said Marsaoly
Pagi turun seperti kabut yang malas di kampung pesisir itu. Angin laut menyentuh jendela rapuh rumah kayu yang berdiri miring. Di dalamnya, lelaki tua itu—yang dulu dipanggil Om Singgih oleh para nelayan muda—terbangun tanpa suara. Ia duduk di sisi kasur, menatap lantai kayu yang mulai renggang, menghela napas panjang yang seakan hendak membuang sesuatu dari dadanya.
Di dapur kecil, ia merebus air. Di atas meja, ikan kering sisa semalam tergeletak. Separuhnya sudah habis. Ia mengangkat piring perlahan, memungut satu per satu tulang ikan itu, dan menyelipkannya di bawah kasur. Seolah dengan begitu, ia bisa menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar sisa makan malam.
Orang-orang kampung bilang ia aneh. Tapi tak ada yang benar-benar bertanya mengapa lelaki tua itu mengumpulkan tulang-tulang ikan. Mereka hanya tahu: ia tak pernah lagi turun ke laut sejak badai tujuh tahun lalu. Sejak istrinya tak kembali dari pasar. Sejak anak lelakinya merantau dan tak pulang.
Ia duduk di tangga depan rumah, menyeruput kopi pahit. Laut terhampar di hadapannya, tapi seperti tembok diam.
“Kau berubah,” gumamnya pelan. “Atau aku yang perlahan hilang.”
Di dinding rumahnya, terpaku sebuah jaring tua, kaku oleh garam dan waktu. Di sebelahnya, menggantung foto pudar: dirinya bersama tiga nelayan muda, tertawa lepas di atas perahu. Masa sebelum laut menjadi kenangan yang menyayat.
Ia berjalan ke sudut ruangan, membuka peti kayu, dan mengeluarkan buku catatan yang telah menguning. Ia menulis satu nama lagi:
Tulang Ikan, 14 Mei. Somasi. Tengah malam.
Buku itu berisi ratusan entri seperti itu—jenis ikan, cara dimasak, waktu makan, dan perasaan saat menyantapnya. Ia menyebutnya “buku hidup”. Mungkin satu-satunya cara untuk merasa masih ada.
Kadang ia berharap seseorang akan membacanya. Anaknya, barangkali. Tapi harapan itu seperti garis pasir yang dihapus ombak.
Siang datang menggeliat, menyandarkan panasnya di dinding rumah. Om Singgih melangkah ke luar, menyusuri pasir yang menghangatkan telapak kakinya. Ia berjalan ke dermaga kecil tempat perahu-perahu nelayan lain berlabuh. Suara motor tempel meraung di kejauhan; bau solar dan ikan asin mengambang di udara.
Ia berdiri di ujung dermaga. Tak ada lagi perahu miliknya di sana. Sudah lama ia menjualnya—dengan berat hati—untuk membeli obat dan menambal hidup yang perlahan bocor.
Beberapa nelayan muda menyapanya. Ia mengangguk, tapi diam. Dunia mereka telah berubah: GPS menggantikan bintang, mesin menggantikan dayung, dan harga ikan ditentukan kota.
“Dulu, kami melaut pakai firasat dan sabar,” bisiknya.
Ia memungut sepotong kayu kecil dari bibir dermaga—sisa papan perahu entah dari mana—dan menggenggamnya erat. Seolah kenangan bisa dijemput lewat serpihannya.
Dalam perjalanan pulang, ia melewati garis pantai yang mulai digerus abrasi. Beberapa rumah panggung miring seperti ingin jatuh. Di depan rumah kosong sahabatnya, Jemi—yang tenggelam dalam badai dan tak ditemukan—ia berhenti. Ia menancapkan kayu kecil yang tadi dibawanya ke tanah retak itu. Bibirnya bergetar, berdoa tanpa suara.
“Laut mengambil. Tapi tak pernah benar-benar mengembalikan.”
Menjelang sore, ia pulang. Di bawah kasurnya, tulang-tulang ikan makin banyak. Tapi tak satu pun yang cukup menjelaskan kesedihannya.
Malam turun seperti pelan-pelan menghapus dunia. Angin menelusup celah dinding kayu, membawa bau garam dan kesunyian. Om Singgih duduk di lantai, lampu minyak menyala kecil di sudut ruangan. Buku catatan itu terbuka di pangkuannya. Tapi kali ini ia tak menulis. Ia hanya menatap halaman-halaman penuh coretan tangannya sendiri.
Ia menyentuh satu catatan lama: Tulang Ikan, 3 Januari. Ikan Lakoria. Tengah malam. Sendirian.
Matanya terpejam. Ia mendengar kembali suara perahu, suara istrinya memanggil, tawa anak lelakinya, deru badai yang menelan semua. Tapi malam terlalu sunyi. Yang ada hanya napasnya sendiri.
Ia bangkit, pelan, menuju kasur. Diangkatnya kain lusuh itu, ditambahkan satu tulang lagi. Tangannya gemetar.
“Besok, kalau masih ada tulang, berarti aku belum sepenuhnya hilang,” bisiknya.
Ia berbaring. Matanya terbuka, menatap langit-langit. Di luar, laut berdebur pelan. Tapi malam itu, laut tak membawa mimpi apa-apa.
Pagi berikutnya, ia berjalan ke pasar kecil di pinggir kampung. Tangannya menggenggam keranjang rotan tua. Bukan untuk menjual, bukan untuk membeli. Ia hanya ingin melihat, sekadar merasa bagian dari sesuatu.
Pasar telah berubah: plastik menggantikan daun, suara keras menggantikan sapa. Di sudut pasar, seorang anak kecil menjual ikan kering dalam plastik bening. Om Singgih mendekat, menatap lekat-lekat. Bukan ikan segar hasil tangkapan semalam, tapi ikan dari jauh, dari tempat yang tak ia kenali.
“Ini bukan dari laut kita,” gumamnya. Anak itu mengangguk. “Sekarang susah cari ikan besar di sini, Pak.”
Ia berjalan pulang menyusuri kampung yang makin sunyi. Di kolong rumah panggung, tak ada jaring basah, tak ada suara perahu ditambal. Hanya angin dan debu.
Di dapur, ia memanggang ikan fufu dan membakar sagu dalam cetakan tanah liat—bekal sederhana yang mengingatkannya pada laut yang dulu. Ia duduk di tangga rumah, memandangi cakrawala yang membisu.
Malam nanti, ia tahu, satu tulang ikan lagi akan bertambah. Tapi tulang itu tak berasal dari laut yang pernah ia kenal. Hanya sisa dari dunia yang makin jauh ditelan waktu.
Teluk Buli, Awal Juni 2025
