
Jogja, sore hari yang teduh di bulan Agustus. Tahun 2005. Aku duduk di sudut kedai kopi kecil di daerah Jetis. Tempatnya tak ramai, tapi bukan berarti sepi. Musik mengalun pelan dari speaker di atas jendela. Lagu lama yang tidak kukenal, tapi rasanya pernah kudengar entah di mana.
Di hadapanku, secangkir kopi hitam sudah mulai dingin. Aku membaca koran, bukan untuk berita, tapi untuk menghindari layar. Aku sudah cukup lelah dengan berita-berita yang sibuk bicara, sementara hatiku hanya ingin mendengar yang pelan-pelan saja. Di halaman belakang koran itu, ada kolom cerpen. Aku membacanya sambil mencoret satu dua catatan kecil di kertas lepas. Kalimat-kalimat yang nyaris. Yang belum selesai.
Lalu dia datang. Seorang perempuan, kira-kira awal dua puluhan, duduk dua meja dariku. Rambutnya diikat longgar. Ia memesan kopi dan roti panggang. Tak lama, pelayan datang, lalu pergi. Suaranya tidak ada yang keras, tapi cukup untuk mengisi ruang.
Aku tidak menatapnya terlalu lama. Tapi entah mengapa, setiap kali aku mengangkat wajah dari koran, pandanganku selalu menemukan ujung jarinya—yang menggulir buku, yang membetulkan rambut, atau sekadar diam di atas cangkir.
Hari itu tidak ada yang terjadi. Kami tidak berbincang. Tidak saling sapa. Tapi ketika ia berdiri untuk pergi, ia menoleh sebentar ke arahku. Senyumnya pendek, tapi cukup untuk membuat jantungku seperti kertas yang disentuh api kecil.
Aku kembali menunduk. Di ujung catatan, aku menulis satu kalimat: “Beberapa pertemuan tidak ingin jadi kenangan, tapi juga tidak sanggup jadi lupa.”
Hujan pertama bulan berikutnya datang seperti janji kecil yang ditepati cuaca. Sore itu, aku kembali ke kedai yang sama, duduk di sudut yang sama. Kali ini tidak membawa koran. Hanya buku catatan dan pena.
Dia datang lagi. Duduk di meja yang sama. Tapi hari itu, tak ada roti panggang. Ia hanya memesan kopi. Dan untuk pertama kalinya, aku menyapanya lebih dulu.
“Hujannya datang tepat waktu,” kataku, setengah basa-basi, setengah harap.
Dia mengangguk, lalu menjawab, “Seperti seseorang yang tahu kapan harus kembali, tapi tak berani terlalu lama.”
Aku tersenyum. Kalimat itu terdengar seperti puisi yang tidak sengaja keluar dari seseorang yang tidak menganggap dirinya penyair.
Percakapan kami tidak panjang. Kami bicara soal buku yang sedang ia baca, tentang suara hujan yang lebih jujur dari berita, dan tentang kopi yang kadang terlalu jujur dalam menyisakan pahit.
Namanya Ardi. Itu saja yang kutahu sore itu. Dan dia hanya tahu aku menulis—bukan apa yang kutulis, atau untuk siapa.
Ketika hujan reda, ia pamit lebih dulu. Tapi sebelum pergi, ia meninggalkan selembar kertas kecil di atas meja. Di atasnya, ada satu kalimat:
“Kalau kau duduk di sini lagi minggu depan, mungkin kita bisa lanjutkan cerita ini.”
Aku simpan kertas itu di dalam dompet. Dan minggu berikutnya, aku datang lebih awal dari biasanya.
Sejak pertemuan itu, minggu-minggu kami mulai punya pola. Sore hari, kedai yang sama, meja yang sama. Tidak pernah janjian, tapi selalu bertemu. Kadang aku datang lebih dulu, kadang dia. Tapi entah bagaimana, tak sekalipun salah satu dari kami absen.
Kami tetap tidak banyak bicara. Obrolan kami seperti garis-garis halus di permukaan air: cukup untuk tahu ada gerak, tapi tidak menimbulkan riak. Kami bicara tentang buku, cuaca, dan sesekali tentang orang tua. Tak ada pertanyaan tentang pekerjaan, alamat rumah, atau masa lalu. Kami menghindari hal-hal yang bisa membuat satu sama lain terlalu nyata.
Aku mulai menulis cerpen baru. Di dalamnya, tokoh perempuan memiliki cara duduk yang sama seperti Ardi. Dan kebiasaan memutar cangkir sebelum menyesap kopi. Saat dia membaca kutipan tulisan itu di catatan kecilku, ia hanya tersenyum. Tak bertanya, tak menolak.
Sore itu, dia berkata pelan, “Orang bisa saling mengenal hanya dari hal-hal kecil, ya?”
Aku menjawab, “Dan kehilangan justru datang dari hal-hal yang tak sempat ditanyakan.”
Ada jeda. Dia menatapku, lama. Lalu tertawa pendek. Seolah kalimat itu lucu, padahal tidak.
Hari itu, ia cerita tentang calon suaminya. Bukan dengan air mata, bukan dengan kesedihan. Tapi seperti orang yang sedang menjelaskan arah angin.
“Pernikahannya bulan depan,” katanya. “Sudah disiapkan sejak lama.”
Aku hanya mengangguk. Tak bertanya kenapa dia masih duduk di sini bersamaku. Mungkin karena aku tahu jawabannya, dan aku tak siap untuk mendengarnya.
Sejak itu, kami masih bertemu. Tapi kediaman kami menjadi lebih panjang. Kadang hanya lima kalimat dalam satu jam. Tapi lima kalimat itu cukup untuk membuatku bertahan sepekan penuh.
Dan setiap kali aku melihatnya memegang cangkir dengan dua tangan, aku tahu: ada sesuatu yang dia genggam kuat-kuat, tapi tidak untuk ditunjukkan.
Aku mulai menyimpan lebih banyak kalimat dalam kepala, bukan di catatan. Karena beberapa kalimat tidak untuk ditulis, hanya untuk dikenang.
Hari terakhir kami bertemu, hujan turun lebih awal dari biasa. Langit tampak lebih rendah, seperti menahan sesuatu yang berat. Aku datang sedikit terlambat hari itu. Ketika membuka pintu kedai, aku melihatnya sudah duduk lebih dulu. Cangkir kopinya setengah kosong, tangannya menggenggam sendok kecil yang tak bergerak.
Ia menatap ke luar jendela, ke arah hujan yang turun pelan-pelan. Matanya tampak letih, tapi tak kalah tenang dari sebelumnya. Aku menarik kursi dan duduk di seberang. Kami saling menyapa dengan anggukan kecil. Tak ada senyum.
Kami duduk cukup lama tanpa bicara. Suara hujan dan denting sendok dari meja sebelah menjadi semacam musik latar. Kedai itu lebih lengang dari biasanya. Mungkin karena hujan, mungkin karena minggu itu adalah minggu terakhir bulan.
“Besok aku ke Jakarta,” katanya akhirnya. Suaranya pelan, nyaris tenggelam oleh bunyi hujan.
Aku mengangguk. “Sudah siap?”
“Belum,” katanya. Lalu tertawa kecil, pahit. “Tapi kalau ditunggu sampai siap, mungkin aku tak akan pergi.”
Aku ingin bertanya sesuatu—apa yang sebenarnya dia tunggu, atau apa yang ia simpan selama ini—tapi pertanyaan itu tak pernah keluar. Seperti banyak hal lain dalam hidupku, ia hanya tinggal di ujung lidah dan kembali ke dada.
Kami duduk sedikit lebih lama dari biasanya. Lalu ia berdiri, membenarkan syal tipis di lehernya. “Kamu akan tetap datang ke sini?”
“Entah,” kataku. “Mungkin.”
Ia mengangguk. Lalu berjalan pelan ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh, seperti pada pertemuan pertama. Tapi kali ini tak ada senyum. Hanya tatapan yang menyimpan sesuatu yang tak sempat diberi nama.
Aku tinggal sendirian. Hujan masih turun. Pelayan membersihkan meja satu per satu. Cangkir kopiku hampir dingin seluruhnya.
Di saku kemeja, aku menemukan selembar kertas kecil. Ternyata ia sempat meletakkannya tanpa aku sadar.
Satu kalimat, tulisan tangannya: “Beberapa cerita tidak berakhir. Mereka hanya berhenti dituliskan.”
Aku melipat kertas itu perlahan, dan meletakkannya di antara halaman bukuku.
Kedai mulai sepi. Aku menatap kursi di seberang. Masih hangat oleh kehadirannya, tapi pelan-pelan, kosong itu mulai terasa nyata.
Sudah lebih dari satu bulan sejak hari itu. Aku masih datang ke kedai yang sama setiap minggu. Waktu kedatanganku makin acak, tapi aku selalu duduk di sudut yang sama, memesan kopi yang sama, dan membuka buku catatan yang sama. Halaman-halamannya sudah mulai kusut, tapi aku belum menambahkan apa-apa.
Pelayan mulai mengenalku. Mereka tak bertanya apa pun, tapi pandangan mereka menyimpan semacam rasa iba yang tenang. Mungkin mereka juga pernah melihat seseorang duduk di kursi seberang itu. Atau mungkin tidak.
Setiap sore yang basah, aku merasa suara hujan menulis sesuatu yang tidak bisa kusalin. Ia menggema di dinding dadaku, bukan di halaman kertas.
Aku masih menulis. Tapi cerita-cerita itu tidak selesai. Selalu berhenti di tengah, atau sengaja kubuat pendek. Seperti sedang meniru cara ia pamit dari meja itu. Diam-diam. Sopan. Tidak membuat luka besar, hanya lubang kecil yang tak bisa ditambal.
Satu sore, seorang mahasiswa datang duduk di meja seberang. Ia membuka laptop, memesan kopi, dan mulai mengetik cepat. Sekilas, aku seperti melihat Ardi—bukan wajahnya, tapi kehadirannya. Satu jenis kehadiran yang tidak memaksa, tapi tetap tinggal dalam ruang.
Aku memalingkan wajah. Jantungku berdebar seperti pertemuan pertama. Tapi aku tahu, bukan dia. Dan bahkan jika dia muncul lagi, yang akan datang bukan perempuan yang sama. Karena kita selalu berubah—dan kadang, yang berubah lebih dulu adalah jarak antara dua orang yang pernah duduk berhadapan.
Aku membuka buku catatan. Di halaman belakang, kutulis sebuah kalimat pendek: “Beberapa cinta tidak gagal. Ia hanya tak pernah selesai.”
Lalu kulipat catatan itu, dan kupindahkan ke dompet—bersebelahan dengan kertas tua bertulisan tangan yang kini mulai luntur di pinggirannya.
Di luar, langit meredup. Suara sendok dan gelas kembali memenuhi ruang kecil itu. Dan untuk pertama kalinya, aku menyeruput kopiku sampai habis. Tanpa tergesa, tanpa berharap ia datang kembali.
Hanya dengan keyakinan yang sunyi: ia pernah di sini. Itu cukup.
Teluk Buli, Akhir Desember 2023