Berdikari ala Iran

Ilustrasi AI

Kondisi geopolitik terkini semakin menegaskan posisi Iran dalam peta perlawanan terhadap neoimperialisme. Perang 12 hari antara Iran dan Israel baru-baru ini menjadi bukti nyata bagaimana ketegangan di kawasan Timur Tengah tidak pernah lepas dari campur tangan Amerika Serikat. Serangan rudal balasan antara Teheran dan Tel Aviv menunjukkan bahwa Iran tak hanya bertahan, tetapi juga merespons ancaman dengan kekuatan militer terbuka.

Di belakang Israel, Amerika Serikat kembali memainkan perannya sebagai pemasok senjata, informasi intelijen, hingga tekanan diplomatik ke berbagai forum internasional. Dunia menyaksikan bahwa konflik ini tak hanya soal dua negara, melainkan medan laga kepentingan global.

Iran adalah satu dari sedikit negara yang memilih jalan sendiri: berdiri di atas kaki sendiri. Sejak Revolusi Islam 1979, Iran memutus ketergantungan pada Amerika Serikat dan sekutunya. Mereka membangun sistem ekonomi sendiri, industri militer sendiri, hingga teknologi kesehatan dan pertahanan cyber yang mandiri. Semua itu lahir di tengah tekanan sanksi yang nyaris tak berkesudahan.

Gema semangat ini terasa begitu dekat dengan pidato-pidato Bung Karno pada dekade 1960-an. Lewat konsep “Berdikari”, berdiri di atas kaki sendiri Bung Karno menegaskan bahwa kemerdekaan politik tanpa kemandirian ekonomi hanyalah ilusi. “Kalau ekonomi kita masih dijajah, maka politik kita adalah boneka,” kata Bung Karno.

Namun dunia yang dihadapi Iran hari ini adalah versi lebih kejam dari neoimperialisme. Sanksi ekonomi tak ubahnya senjata pemusnah massal yang pelan-pelan menghancurkan rakyat. Ketika Iran menolak tunduk pada sistem keuangan global berbasis dolar dan SWIFT, mereka dikucilkan, dicap sebagai “poros kejahatan,” dan jadi sasaran perang informasi tanpa henti.

Kemarahan Barat pada Iran sesungguhnya sederhana: Iran adalah bukti hidup bahwa dunia bisa berjalan tanpa tunduk pada hegemoni global. Iran menolak membuka pasar bagi eksploitasi kapital asing, menolak menyerahkan kebijakan luar negerinya kepada tekanan diplomatik, dan menolak menjadi pangkalan militer bagi kepentingan imperium.

Iran tidak menunggu belas kasihan Bank Dunia atau IMF. Mereka tidak menadahkan tangan pada lembaga keuangan internasional yang kerap menjadi alat penjinakan negara-negara Global Selatan. Di bawah tekanan, Iran justru membangun industri pertahanan, teknologi drone, program nuklir, hingga sektor bioteknologi dan kesehatan sendiri.

Apa yang bisa dipelajari bangsa-bangsa Global Selatan dari Iran? Bahwa kedaulatan bukan hadiah. Bukan hasil kompromi dengan kekuatan asing. Kedaulatan adalah hasil dari keteguhan, ketahanan, dan keberanian untuk menanggung risiko. Seperti halnya Iran, Bung Karno sejak lama sudah memberi peringatan bahwa bangsa yang tidak berdikari akan jadi jongos di rumahnya sendiri.

Kini, ketika banyak negara justru berlomba menyerahkan tambang, hutan, dan kebijakan ekonominya ke tangan asing, Iran tampil sebagai ironi sekaligus pelajaran. Negara yang disudutkan oleh media internasional sebagai terbelakang atau otoriter justru berani menjaga kedaulatannya.

Pertanyaannya: apakah Indonesia, yang dulu memelopori semangat anti-imperialisme lewat Konferensi Asia-Afrika, masih memiliki nyali yang sama? Karena dalam dunia yang tidak adil ini, tunduk adalah penjajahan paling halus, dan berbahaya.!

Dapatkan tulisan baru Suluk Kata lewat surel:

Tulisan lain