Muhammad

Kita menyebut namanya.
Seperti memanggil sesuatu yang jauh, tapi hadir di ruang yang tak bisa kita ukur.

Islam tak menuhankannya.
Ia tetap hamba. Tapi dalam sujudnya ada langit yang tak jatuh ke bumi.
Ia bukan Tuhan—dan justru karena itu, ia menjadi jalan.

Para penyepi menyebutnya cermin.
Tak menyimpan cahaya, hanya memantulkannya.
Ia tak meniadakan jarak, ia merawatnya—karena tanpa jarak, tak ada rindu.

Shalawat adalah tanda kita ingin terhubung.
Sebuah kata yang melintas, seperti benang halus yang mengikat bumi pada langit.
Kita kirim salam, agar sampai. Kita kirim doa, agar tak hilang.

Dan mungkin kita lupa:
Nama itu tak hanya bunyi.
Tapi arah. Tapi janji bahwa yang terbatas bisa mendekati Yang Tak Terbatas—tanpa melebur, tanpa kehilangan diri.

Teluk Buli, 2025

Dapatkan tulisan baru Suluk Kata lewat surel:

Tulisan lain