Waktu

Puisi Waktu

Di sela nafas

Di antara dua detak jantung,
ada jalan kecil
tak selalu lurus.
kamu menyebutnya waktu—
tapi leluhur memanggilnya lain:
jejak cahaya yang kembali kepada dirinya sendiri.

Kadang ia melengkung seperti punggung orang tua
yang terlalu banyak menanggung doa.
Kadang ia merayap, diam.
seperti kabut turun berlahan
mencium batu-batu tua di kampungmu.
Dan kadang berhenti,
menyembunyikan seluruh rahasia
dalam sepi yang lebih tua dari kita.

Katamu:
“Jika kamu rasa waktu terlalu cepat,
itu bukan salah jam di dinding.
mungkin hatimu yang menjauh dari pusatnya.”

Aku duduk.
menyimak bunyi kecil yang tersisa
di dasar dada.
di sana kulihat sesuatu melengkung:
sebuah garis seharusnya lurus
tapi kembali ke awalnya,
seperti seorang perantau yang mengerti
pulang bukanlah jarak.

Dalam lengkung itu,
aku mulai memahami kata para sufi:
Alam berjalan bukan karena ia bergerak,
tapi kita yang sedang terjaga dalam mimpi-Nya.

Waktu menunduk perlahan.
Ia lewat di sampingku,
melewati tubuhku yang rapuh,
lalu berbelok halus—
seperti sengaja menghindari
kesombongan seorang hamba
yang terlalu sering mengira dirinya pusat semesta.

Katamu lagi:
“Jangan kejar waktu.
Ia tidak lari.
Kamulah yang tersesat.”

Dan pada malam itu,
di antara gelap yang lembut,
aku menangkap bisikannya:

waktu mungkin bukan garis,
tapi lingkaran yang terus kembali
pada Sang Cahaya.
setiap lengkungan adalah isyarat,
setiap detik adalah pintu. Perlu diketuk
diam-diam
di ruang terdalam jiwamu.

aku tunduk,
biarkan waktu melengkung di tangan Tuhan,
dan aku—
hanya debu. Pasrah
pada arah angin, pada waktu.
Teluk Buli,06 Des 2025

Dapatkan tulisan baru Suluk Kata lewat surel:

Tulisan lain