Perempuan yang Pergi Lewat Pintu Belakang

Perempuan yang Pergi Lewat Pintu Belakang
Ilustrasi oleh Ai

Aku ingat pagi itu dengan jelas—matahari belum tinggi, Mama bangun lebih dulu. Aku terbangun. Suara derit lantai setiap kali sapu lidi menggesek di papan. Dari celah pintu kamar, kulihat Mama menyapu kepalanya diikat kain, seperti dulu waktu masih kuat. Itu aneh.

Seminggu terakhir, Mama lebih sering berbaring. Badannya panas-dingin, kadang menggigil, kadang berkeringat. Nafas pendek-pendek, seperti dicuri malam. Tapi pagi itu, ia seperti Mama yang dulu—ringan, sigap, dan tangannya cepat sekali menyalakan api di tungku. Aku bangun, duduk diam di pintu, melihat ia menuang air panas ke baskom, lalu memanggilku.

“Amat, sini. Cuci muka, nanti bantu Mama cuci piring.”

Aku diam, berdiri menghampirinya. Mama mengelus kepalaku sebentar, lalu melanjutkan menyikat karpet usang di dekat dapur. Diperhatikannya setiap sudut rumah: ia menyapu kembali bagian-bagian yang berdebu, mengganti taplak meja yang bulukan, serta merapikan sarung-sarung Papa yang dilipat sembarangan di pojok.

Hari itu seperti hari yang ingin dikenang. Mama membersihkan rumah seperti hendak meninggalkannya untuk waktu lama, menyentuh benda-benda dengan pelan, seolah berpamitan pada semuanya diam-diam.

Siangnya, Papa pulang lebih awal dari biasa. Perahu ditambat lebih cepat di ujung dermaga kecil dekat rawa. Ia masuk rumah dengan bau laut di tubuhnya dan mendapati Mama sedang menimangku adik kecilku sambil menyuapkan pisang kukus.

Aku mendengar mereka berbicara di dapur. Kata-kata Mama terdengar seperti desir angin: jika waktunya tiba, jangan ramai-ramai. Biarlah kepergianku jadi urusan langit dan tanah, katanya lirih, Mama seolah berbicara lebih kepada malam daripada kepada Papa.

Papa diam. Tak menjawab. Hanya menarik Mama ke pelukannya, seperti menahan waktu agar tak pergi terlalu cepat.

Malam datang pelan, seperti biasa. Angin laut menyusup lewat sela-sela papan, membawa bau garam dan daun bakau basah. Lampu petromax menyala redup di ruang tengah. Mama baru saja selesai menyisir rambut adik, lalu memintaku menggulung tikar pandan dan menyimpannya.

“Mama tidur duluan, ya,” katanya pelan.

Aku mengangguk. Biasanya Mama menunggu Papa pulang dari masjid, menyuguhkan teh panas, kadang menyeduh kopi. Malam itu, Mama hanya duduk sebentar lalu masuk kamar lebih dulu.

Setelah adik tertidur, Mama berdiri di depan cermin kecil yang menggantung di dinding. Ia mengganti bajunya dengan daster tua putih bersih, menyelipkan sisir dan sapu tangan ke dalam lipatan kain. Lalu ia menatap sebentar ke tikar pandan yang sudah tergelar, seolah memastikan tempatnya sendiri sebelum berbaring. Sebelum itu, ia sempat menoleh ke arahku.

“Amat,” katanya, “besok… kalau bangun, jangan dulu main jauh-jauh. Bantu papa jaga adik. Jangan bikin dia menangis.”

Aku tidak paham maksudnya. Hanya jawab, “Iya, Ma.”

Mama lalu menyuruhku tidur di tikar, seperti biasa. Sebelum ikut berbaring, Mama keluar sebentar ke halaman depan. Aku hanya mengintip dari sela pintu. Di bawah cahaya bulan yang tumpah di atas tanah berpasir, Mama menuang air wudu dari tempayan kecil. Perlahan, ia duduk di tanah, mengusap wajahnya, lalu memungut segenggam tanah yang dingin dan menempelkannya ke kening. Setelah itu, ia kembali mengusap wajahnya—gerakannya tenang, seolah berpamitan pada bumi.

Kemudian, Mama masuk lagi, melirik ke luar jendela. Langit malam Halmahera bersih, bintang-bintang bertabur seperti garam tumpah. Tak ada suara lain, kecuali cicak dan angin di sela atap katu.

Aku tertidur lebih dulu.

Tapi entah pukul berapa, aku terbangun—hawa dingin menusuk dan rumah terasa sunyi sekali. Rumah gelap. Samar-samar aku melihat Papa duduk bersila di dekat tikar, kepalanya menunduk, satu tangannya menggenggam ujung kain yang menyelimuti Mama.

Mama terbaring di atas tikar pandan, tubuhnya tenang di atas lantai papan yang dingin. Kedua tangannya diletakkan rapi di atas dada, seolah masih menjaga sesuatu yang penting. Kain putih menutupi sebagian wajahnya.

Aku hanya diam dan memandang dari tempatku duduk. Ayah tidak bicara. Hanya menunduk, sesekali menutup matanya, seolah menahan sesuatu yang dalam.

Tak lama, ayah berdiri perlahan, mengambil sehelai kain panjang dari lemari. Ia bungkus tubuh Mama dengan tenang, seperti cara Mama membungkus adik waktu masih bayi dulu.

Papa sempat duduk lama di sisi tikar, memandangi Mama dalam gelap. Setelah beberapa saat, ia merogoh saku bajunya, mengeluarkan korek api, dan menyalakannya pelan-pelan. Nyala kecil itu menyala sebentar di ujung sumbu petromax. Tak lama kemudian, cahaya terang memenuhi ruangan, gemetar dan memantul di dinding papan. Saat itulah aku melihat matanya sembab, basah oleh tangis yang ditahan.

Aku teringat bisik Mama malam sebelumnya—biarlah kepergianku jadi urusan langit dan tanah. Dan Papa, seperti memegang erat pesan itu, memikul sendiri tubuh Mama yang ringan itu, keluar lewat pintu belakang. Tak ada yang tahu. Tak ada yang dipanggil.

Aku duduk di ambang pintu, melihat ayah menggendong Mama di punggungnya, pelan-pelan melangkah ke luar rumah lewat pintu belakang. Bayangan mereka memanjang di tanah, menyusuri malam yang sepi, melewati halaman berpasir dan semak-semak kecil di pinggir jalan kampung.

Aku berjalan di belakangnya, tanpa suara. Di langit, bintang-bintang tetap utuh. Tapi sejak malam itu, rumah kami tak pernah lagi benar-benar terang.

Aku tak ingat doa yang dibaca. Tapi aku ingat bau tanah basah, kain sarung Papa yang lembap oleh peluh, dan suara daun-daun kering yang patah pelan saat kami lewati. Mama pergi dengan tenang. Dan malam di Halmahera terasa sangat panjang.

Teluk Buli, Januari 2025

Dapatkan tulisan baru Suluk Kata lewat surel:

Tulisan lain