Di dalam tanah yang tak punya jendela, sebuah suara memoles peluncur-peluncur palsu seperti mengasah pisau untuk memotong bayangan sendiri.
Tak ada senjata. Yang ada: peta kekosongan. dinding yang digambar ulang setiap malam dengan bayangan tangan sendiri.
Israel datang dengan euforia yang gemetar. Langit dicoret coretan mesin rudal-rudal membelah udara seperti anak-anak menggambar api di buku tulis. Namun api tak menemukan tubuh, hanya jerami yang sengaja disusun mirip gudang.
Iran tersenyum di balik senyap di balik batu di balik napas yang panjang dan tidak ingin selesai.
Mereka tak tahu: ada strategi yang tumbuh seperti jamur di kaki meja yang didiamkan bertahun-tahun.
Ada reaktor sejati, tapi ia belajar menirukan suara tikus di terowongan-terowongan rahasia. Ada perang, tapi ia lebih suka disebut kesabaran yang menetes dari langit-langit
Ketika membalas, Iran tidak berteriak. Ia menulis puisi dalam bahasa logam dan suhu tinggi. Langit malam menjadi ruang gelap tempat Tuhan membalik kertas ulangan.
Israel patah. Seperti kaca depan yang dihantam batu dari dalam mobil sendiri.
Kau pikir ini tentang peluncur dan radar? Bukan. Ini tentang seorang tua yang menunggu gempa di bawah tanah sambil menyuap teh ke batu bata.
Tentang sebuah negara yang memilih lapar daripada kehilangan arah sejarahnya sendiri.
Kemenangan, bukan soal bendera berkibar di reruntuhan. Tapi siapa yang tetap bisa tidur sambil memeluk peta yang sudah habis dibakar musuhnya