Iran

Ilustrasi, Leonardo Ai
Di dalam tanah
yang tak punya jendela,
sebuah suara memoles peluncur-peluncur palsu
seperti mengasah pisau
untuk memotong bayangan sendiri.

Tak ada senjata.
Yang ada:
peta kekosongan.
dinding yang digambar ulang setiap malam
dengan bayangan tangan sendiri.

Israel datang
dengan euforia yang gemetar.
Langit dicoret coretan mesin
rudal-rudal membelah udara
seperti anak-anak menggambar api di buku tulis.
Namun api tak menemukan tubuh,
hanya jerami yang sengaja disusun mirip gudang.

Iran tersenyum
di balik senyap
di balik batu
di balik
napas yang panjang dan tidak ingin selesai.

Mereka tak tahu:
ada strategi yang tumbuh seperti jamur
di kaki meja yang didiamkan bertahun-tahun.

Ada reaktor sejati,
tapi ia belajar menirukan suara tikus
di terowongan-terowongan rahasia.
Ada perang,
tapi ia lebih suka disebut kesabaran yang menetes dari langit-langit

Ketika membalas,
Iran tidak berteriak.
Ia menulis puisi dalam bahasa logam dan suhu tinggi.
Langit malam menjadi ruang gelap
tempat Tuhan membalik kertas ulangan.

Israel patah.
Seperti kaca depan
yang dihantam batu dari dalam mobil sendiri.

Kau pikir ini tentang peluncur dan radar?
Bukan.
Ini tentang seorang tua
yang menunggu gempa di bawah tanah
sambil menyuap teh ke batu bata.

Tentang sebuah negara
yang memilih lapar
daripada kehilangan arah sejarahnya sendiri.

Kemenangan,
bukan soal bendera berkibar di reruntuhan.
Tapi siapa yang tetap bisa tidur
sambil memeluk peta
yang sudah habis dibakar musuhnya

Teluk Buli, Juni 2025

Dapatkan tulisan baru Suluk Kata lewat surel:

Tulisan lain