Di ruang tanpa nama, warna hanya bayang dari sesuatu yang tak pernah lahir. Garis-garis patah melayang, seperti suara kehilangan mulutnya.
Apakah benda ada, jika tak ada mata? Apakah suara berarti, jika tak ada telinga? Atau semua hanya ilusi dari sesuatu yang tak pernah tahu dirinya sendiri?
Sebuah kursi bermimpi jadi waktu. Sebuah bayangan melipat dirinya jadi cahaya. Tapi waktu? Dan cahaya bocor dalam gelap.
Aku bukan aku. Batu bukan batu. Yang bernama hanya kesepakatan rapuh. Tipuan bagi semesta menghibur dirinya sendiri.
Lalu, siapakah yang menyebut ini puisi? Jika kata hanyalah debu menyamar jadi suara.