Di atas tulang, berdiri daging.
Di atas daging, berdiri nafsu. Di atas nafsu, berdiri bendera.
Tangan. Menggenggam. Menghantam. Merobek.
Siapa mereka?
Primata. Berbaju jas. Berpita dasi. Bersiluet negara.
Mulutnya bicara pembangunan.
Tandatangani kehancuran.
Mereka membakar hutan pakai grafis presentasi.
Mereka mengeringkan sungai pakai Rencana Kerja Tahunan.
Mereka potong gunung pakai kacamata hitam dan kata: "Investasi."
Primata.
Bukan yang tinggal di pohon. Bukan yang makan buah tapi tinggal di ruang rapat.
Makan tanah.
Mereka bilang: Kemajuan.
Tapi bau mereka: Abu.
Bau mereka: Lumpur.
Bau mereka: Logam racuni sungai.
Darah
Mengalir di bawah kontrak.
Tangan
Menggenggam palu.
Menggenggam undang-undang.
Menggenggam peta yang sudah diberi garis.
Bumi terkapar.
Air membatu.
Udara luka.
Waktu gemetar.
Tapi mereka tetap berdiri.
Primata lupa ia pernah belajar jadi manusia.
Teluk Buli, 29 Juni 2025
M. Said Marsaoly menulis esai, puisi, dan cerpen dari Teluk Buli, Halmahera Timur. Pegiat di Salawaku Institute (salawakuinstitute.org).