
Di sebuah zaman yang nyaris dilupakan sejarah, lahirlah seorang anak lelaki dari rahim seorang ratu. “Watugunung” begitu Namanya. Anak yang ditinggal pergi bapaknya, seorang raja sakti yang memilih menghilang tanpa jejak, meninggalkan istri dan anaknya di tengah gemuruh dunia yang tak pernah benar-benar diam.
Watugunung tumbuh tanpa batas. Kenakalannya seperti badai yang menabrak apa saja. Ia merusak, menantang, menghina. Sampai saban hari, ibunya tak kuat lagi menahan amarah, mengayunkan centong kayu ke ubun-ubunnya. Buk! Darah menetes. Luka itu menyisakan sesuatu yang jauh lebih dalam dari rasa sakit: dendam.
“Tak pantas kau pukul darah dagingmu,” katanya. “Aku akan pergi. Tak perlu ibu yang melukai.”
Lelaki kecil itu pun melangkah. Meninggalkan rumah. Meninggalkan segalanya. Ia berjalan melewati hutan, menyeberangi sungai, menaklukkan tebing, dan mendaki gunung. Hingga pada suatu senja, ia tiba di sebuah batu datar sebesar kapal. Di sanalah ia duduk. Bersila. Menutup mata. Diam.
Hari berubah menjadi bulan. Bulan menjadi tahun. Berlahan tubuhnya menyatu dengan tanah. Napasnya bergabung dengan angin. Tapanya menembus langit, mengguncang kahyangan. Para dewa gelisah. Pohon-pohon bergetar. Burung-burung terbang meninggalkan sarang.
Hingga Batara Siwa turun dari langit.
“Apa yang kau cari, wahai manusia?”
Watugunung membuka mata. “Aku ingin kuasa. Atas tanah, atas laut, atas langit. Atas semua makhluk yang berjalan, merangkak, dan terbang.”
Siwa menatapnya lama. “Permintaanmu kukabulkan. Tapi ingat, jika suatu hari kau berhadapan dengan dewa berkepala penyu, itulah pertanda kekuasaanmu mencapai batasnya.”
Dan sejak itu, Watugunung menjadi penakluk. Ia menghancurkan kerajaan demi kerajaan. Membakar, menjarah, membunuh. Dunia tunduk di bawah kakinya. Kecuali satu negeri—diperintah oleh dua ratu: Sinta dan Landep.
Watugunung datang, menaklukkan mereka, dan menjadikan keduanya istri.
Malam pertama berlangsung dalam kebisuan yang ganjil. Setelah tubuh-tubuh saling menyatu dalam gelombang hasrat, Sinta menyentuh ubun-ubun suaminya. Jemarinya berhenti. Tertegun.
“Apa ini?” bisiknya.
“Luka lama,” jawab Watugunung. “Ibuku yang membuatnya. Waktu aku kecil.”
Wajah Sinta memucat. Tubuhnya lunglai. Dalam sekejap, ia sadar: lelaki di hadapannya… adalah anak kandungnya sendiri.
Tanpa suara, Landep pun memahami. Segala yang baru saja mereka lakukan adalah pelanggaran pada hukum semesta. Sebuah kejahatan yang tak bisa ditebus.
Dalam kecemasan yang menggumpal, Sinta berkata, “Kakanda, jika kau benar raja dari segala raja, mengapa tidak kau rebut perempuan tercantik di semesta—istri Dewa Wisnu, Ni Nawang Sari?”
Watugunung, yang pikirannya sudah dipenuhi oleh kabut nafsu dan ambisi, menyerbu kahyangan.
Wisnu turun menghadang. Pertempuran meledak. Ketika hampir kalah, Wisnu menjelma jadi kura-kura raksasa. Metriwikrama. Dewa berkepala penyu.
Pertarungan berlangsung dari Minggu hingga Jumat. Watugunung mulai ragu. Keyakinannya retak. Namun, ia tetap bertarung, seolah ingin buktikan rasa bersalahnya bisa ditutupi dengan darah.
Hingga Sabtu, ketika kura-kura raksasa itu siap menghantam pukulan terakhir, suara dari langit menggema:
“Hei, Wisnu! Jangan bunuh Watugunung. Ia kini sadar bahwa kehidupan harus diatur. Bahwa ada garis yang tak boleh dilintasi. Bahwa dunia butuh tatanan.”
Keheningan menelan medan perang.
“Watugunung,” lanjut suara itu, “mulai hari ini kau menjadi penjaga waktu. Kuletakkan engkau di minggu terakhir dalam siklus pawukon. Ibumu, yang membuka jalan hidupmu, berada di minggu pertama siklus berikutnya. Di antara kalian, kutempatkan satu hari pemisah: Saraswati. Hari bagi manusia untuk berhenti, belajar, dan ingat siapa dirinya.”
Maka, tamatlah kisah Watugunung: dari bocah yang terluka, menjadi penakluk, lalu manusia yang sadar bahwa kekuasaan tanpa batas hanyalah jalan menuju hancur.
Di bawah langit yang bersih, para dewa kembali tenang.
Sejak itu, manusia hidup—atau berpura-pura hidup—dalam tatanan yang mereka sebut peradaban.