“Kami yang bertahan, bukan tabah. Hanya malu untuk pulang atau terlalu lelah percaya pada janji-janji.”

Truk tua itu berguncang keras. Setiap lubang yang kami lintasi seperti melumat tulang belakang. Debu menempel di kulit, di baju, di wajah. Di kanan-kiri, pohon-pohon albasia tumbuh rimbun. Ada yang tumbang, batangnya besar, teronggok begitu saja, seperti tulang-belulang raksasa yang tak sempat terkubur.
Aku berdiri di bak truk, menggenggam erat seutas tali pengaman, memandang jalan setapak yang memanjang ke hutan. Ini perjalanan menuju kampung baru. Kampung yang dijanjikan.
Suara ibu masih terngiang, samar tapi jelas. “Di sana, anak-anak kecil bisa cari duit. Lahan bertani sudah siap. Lampu sudah menyala.” Itu kata petugas dinas sosial yang datang ke kampung kami, jauh di Jawa, beberapa bulan lalu.
Tapi yang kulihat saat truk berhenti hanyalah rumah-rumah beratap seng, berdinding papan kasar. Di dalam, air tergenang hingga selutut. Semak-belukar masih menguasai pekarangan. Tak ada sawah. Tak ada bau padi. Tak ada suara ternak.
Malam itu kami tak tidur. Dalam gelap, suara binatang hutan bersahut-sahutan. Rintik hujan menetes lewat celah-celah atap seng yang bocor.
“Perasaan, lama sekali baru siang,” gumamku dalam hati.
Pagi itu, matahari seperti enggan naik. Aku dan beberapa tetangga memikul parang, berjalan menuju batas lahan. Kami membersihkan semak dan ilalang yang tumbuh liar. Upahnya dua puluh lima ribu untuk satu hektar. Kadang, kami hanya mengisi polibag—dua puluh lima rupiah untuk satu polibag. Hitunglah sendiri berapa yang bisa kami dapatkan dalam sehari.
Kami datang untuk bertani. Tapi lahan pertanian itu ternyata cuma cerita. Yang tumbuh dan dipelihara dengan rapi adalah albasia—pohon-pohon ramping yang tumbuh tinggi, diatur seperti barisan serdadu. Pohon untuk pabrik. Bukan untuk kami.
Di bawah naungan batang albasia yang sudah besar, Pak Abbas duduk bersandar. Ia menggulung tembakau dengan sehelai kertas koran, lalu menyalakan api dengan susah payah.
“Kami pikir, datang ke sini hidup bakal lebih baik,” katanya, suaranya serak. “Ternyata, di sini lebih setengah mati.”
Aku tidak menjawab. Hanya memandangi tanah yang kering, retak, dan bercampur serpihan kayu. Di kejauhan, suara gergaji mesin meraung, menebas batang demi batang pohon yang katanya, kelak akan jadi kemakmuran.
Waktu berjalan seperti kabut. Tahun-tahun lewat tanpa bunyi, tapi meninggalkan bekas yang tajam di dalam dada.
Satu demi satu tetangga pulang ke Jawa. Ada yang menjual rumah seadanya. Ada yang meninggalkan begitu saja. Rumah-rumah kosong perlahan ditelan ilalang. Dindingnya keropos, atapnya roboh, jendela-jendela menganga seperti mata yang lelah menunggu.
Kami yang bertahan, bukan karena tabah. Hanya karena terlalu malu untuk pulang atau terlalu lelah untuk percaya pada janji-janji.
Lahan yang dijanjikan itu baru benar-benar dibagi tahun 2007. Itu pun di lereng pegunungan. Tanahnya berbatu. Sawah tak mungkin tumbuh di sana. Yang bisa hidup hanya pohon pala dan kelapa.
“Tanah ini cuma untuk tanam kelapa. Tapi buat makan sehari-hari? Kami tetap harus beli beras,” gumamku, setengah marah, setengah pasrah.
Aku menatap kebun di depan rumah. Ilalang tumbuh lebih cepat daripada batang kelapa yang baru kutanam dua musim lalu. Di kejauhan, deru mesin masih terdengar. Hutan ini tidak pernah benar-benar tenang.
Dulu, Sungai Onat adalah urat nadi kami. Airnya bening, dingin, mengalir deras dari hulu yang rimbun. Kami mandi di sana, mencuci, bahkan mengambil air minum langsung dari aliran itu. Anak-anak biasa membuat rakit dari batang pisang, berlomba menyusuri arusnya.
Tapi itu dulu.
Pagi ini, suara gemericik air sudah tertutup raungan mesin tromol dari arah hulu. Sungai berubah warna—keruh, berbuih, dan berbau logam yang menusuk hidung. Kadang ada busa kuning yang pecah di permukaan, meninggalkan bekas lengket di bebatuan.
Rumah-rumah kosong yang dulu ditinggalkan keluarga yang pulang ke Jawa, kini ditempati para penambang. Mereka datang dari Buton, Sanger, Manado. Membawa mesin-mesin besar, membawa tromol, membawa raksa dan sianida.
Aku berdiri di tepi sungai. Menatap air yang mengalir, tapi tak lagi membawa kehidupan. Aku mencelupkan tangan, lalu cepat-cepat menariknya kembali. Air itu terasa licin. Lengket.
Segenggam lumpur hitam kuambil dari dasar sungai. Kutimang-timang di telapak tangan. Lumpur itu berat. Berat seperti nasib kampung ini.
“Air ini… dulu kami minum,” bisikku, entah kepada siapa. “Sekarang, bahkan menyentuhnya pun kami takut.”
Di pasar kecil di tikungan jalan, suasana seperti pesta. Orang-orang bercakap dengan nada tinggi, wajah mereka bersinar oleh harapan yang tipis-tipis. Semua membicarakan hasil emas. Ada yang baru dapat satu gram, ada yang dua, ada yang pulang dengan tangan kosong.
Uang berpindah tangan secepat embun menguap. Hari ini beli motor bekas, besok dijual lagi karena tak ada uang buat beli beras. Ada yang beli speaker besar untuk mendengar lagu keras-keras di halaman, ada yang beli ponsel mahal tapi tak punya pulsa.
Rani, laki-laki paru baya yang rumahnya setengah roboh, menatap pekarangan yang penuh ilalang. Ia sedang menyiram beberapa batang cabai yang tumbuh nyaris liar.
Orang-orang tak lagi bertani. Ladang dibiarkan mati. Anak-anak tak lagi pergi ke sekolah. Tromol-tromol berputar lebih nyaring dari suara ayam. Logam berat lebih berharga dari tanah, dari air, bahkan dari tubuh mereka sendiri.
Tapi tak ada yang benar-benar kaya. Emas itu seperti ilusi. Ada, tapi sekaligus tidak ada. Begitu didapat, begitu juga habis. Seperti air sungai yang terus mengalir, tapi tak pernah bisa digenggam.
Di ujung desa, berdiri jembatan yang tak pernah selesai. Besinya keropos, kayunya retak, lapuk dililit lumut dan waktu. Sebagian papan menganga, sebagian lagi hanya tinggal bayangan dari sesuatu yang dulu disebut harapan.
Aku berdiri di atasnya. Menatap Sungai Onat yang tak lagi bernyanyi. Airnya hitam, berbuih, membawa bau logam, getir sianida, dan sesuatu yang lebih berat dari itu semua—kehilangan.
Angin membawa suara yang tak bisa kusebutkan: entah desah pohon yang tumbang, entah napas bumi yang sesak.
Di telapak tanganku, segenggam lumpur. Hitam. Pekat. Berat. Seberat nama yang pernah disematkan pada perjalanan kami dulu: transmigrasi.
“Dulu kami datang membawa mimpi,” kataku, pelan. “Kini yang tersisa hanya lumpur, tromol, dan langit yang menggantung terlalu rendah di atas kepala.”
Aku menatap jembatan ini. Setengah jadi, setengah rubuh. Tapi orang tetap menapakinya. Kaki-kaki rapuh melangkah di atas papan lapuk, menyangga tubuh yang tak tahu lagi ke mana harus pulang.
Dulu mereka bilang ini adalah bagian dari pembangunan.
Bagian dari rencana besar.
Bagian dari janji-janji yang diikat dengan peta, dengan angka, dengan bendera.
Tapi tak ada yang memberi tahu bahwa di peta itu, kami cuma catatan kaki.
Lalu hilang.
Perlahan.
Diam-diam. Seperti nama yang larut di sungai.
Teluk Buli, 2015