Yang Terjaga

Ilustrasi

Pagi itu langit mendung, cahaya putih merambat dari balik tirai jendela. Udara basah. Suara langkah kaki di lantai terasa lebih lambat dan waktu seolah menahan napasnya sendiri.

Ia bangun dengan perasaan aneh. Seperti bagian dirinya masih tertinggal di dalam mimpi.

“Aku merasa mengalami ini sebelumnya, tapi entah di mana,” gumamnya sambil duduk di pinggir ranjang. Ia menyentuh dahinya. Dingin. Sekilas ia seperti mendengar suara hujan, padahal hanya angin.

Langkahnya pelan menuju cermin. Ada bayangan samar di balik kaca: dirinya, tapi tak sepenuhnya. Ia menatap, dekat. Lekat, seperti mencari sesuatu yang hilang.

Hari-harinya berlalu seperti biasa. Ia menyeduh kopi, bermain dengan anak, berangkat kerja, dan berbicara dengan orang-orang. Tapi semua itu terasa jauh.

Seolah ia sedang memainkan peran di atas panggung, dengan naskah yang tak sepenuhnya ia pahami.

Suatu malam, dia bermimpi. Berada di sebuah ruangan rumah tua. Rumah yang serasa akrab tapi tak pernah ia lihat sebelumnya. Di dalamnya, seorang perempuan tua duduk di kursi goyang, tak berkata-kata. Tatapannya dalam seperti tahu segalanya.

Saat ia hendak bertanya, mimpi itu buyar. Ia terbangun, napas tercekat.

Sejak malam itu, rumah dalam mimpinya kerap datang kembali. Ia bisa mengingat pintu kayu yang berderit, cahaya redup yang mengalir dari loteng, dan aroma pandan yang samar di udara. Setiap detailnya begitu jelas. Bahkan lebih jelas dari yang ia alami di dunia nyata.

Siang hari, ia sering merasa lelah tanpa sebab. Konsentrasinya buyar. Saat berbicara dengan rekan kerja, ia merasa sedang berbicara dalam mimpi. Ia mulai mempertanyakan: mana yang nyata? Yang bangun atau yang tidur?

Ia pun mencari. Ia membaca. Ia menelusuri kalimat-kalimat yang pernah hanya ia lewati. Hingga suatu malam, ia menemukan satu sabda yang membuatnya terdiam:

“Manusia itu tidur. Baru ketika mati, mereka bangun.”

Sabda itu seolah menjawab kegelisahannya. Tapi bukan jawaban yang menenangkan. Sebaliknya, ia merasa seluruh rasa aman tentang dunia runtuh begitu saja.

Ia teringat ucapan seorang gurunya yang pernah ia dengar berpuluh tahun lalu. Tentang seorang sufi yang berkata kehidupan dunia ini adalah mimpi sehingga perlu ditakwil.

Ia mulai bertanya pada dirinya: apakah hidup ini hanya mimpi yang menunggu takwil? Jika demikian, apa makna dari pekerjaannya? Dari cintanya? Dari segala rasa sakit dan bahagia yang pernah ia alami?

Malam itu, ia bermimpi lagi. di rumah tua yang sama. Tapi kali ini, ia tidak sendiri. Perempuan tua itu berbicara.

“Sudah lama kamu tertidur,” katanya.

“Aku… siapa aku sebenarnya?”

Perempuan itu tersenyum.

“Kamu adalah cerita yang belum tamat dan makna yang belum ditakwil.”

Lalu bayangan rumah itu berlahan menghilang. Ia melihat dirinya berdiri di sebuah padang luas. Tidak ada apa-apa, hanya cahaya tapi tak silau. Ia melangkah. Cahaya itu bukan dari luar, tapi dari dalam dirinya sendiri. Ia merasa dirinya bukan tubuh, bukan pikiran, bahkan bukan nama.

Saat ia terbangun, dunia tampak sama.

Sejak itu, Ia tak lagi terburu-buru dalam rutinitas. Menyeduh kopi seperti membaca puisi. Mendengar suara cicak seperti mendengar wahyu kecil. Ia tahu hidup ini hanya mimpi. Tapi bukan berarti tidak bermakna. Justru karena itu, ia menunggu ditakwil.

Dan kalimat itu makin hidup, dan tak berhenti berbisik lembut dalam dadanya:

“Manusia itu tidur. Baru ketika mati, mereka bangun…”

Dapatkan tulisan baru Suluk Kata lewat surel:

Tulisan lain