
Dari sekian puisi-puisi Rendra, salah satu yang saya suka adalah ‘Hai, Ma!’ ditulis 1992, saat ia tampak matang sebagai penyair dan manusia. Puisi itu menggetarkan saya. Tak hanya saat membacanya, tapi juga menonton video Rendra sendiri membacakannya. Suara serak itu, tatapan sayu tapi tajam itu, dan jeda panjang itu, seperti menahan napas kehidupan.
Rendra tak hanya dapat beretorika dengan meledak, tapi juga ketenangan dan kejujuran. Dan kita tahu, dalam Hai Ma! Rendra tidak berpidato. Rendra tidak membentak dunia, tapi menyambuk dirinya sendiri—kepada “Ma”, kepada hidup, kepada fitrah.
“Ma, bukan maut yang menggetarkan hatiku, ” tulisnya,
“tetapi hidup yang tidak hidup. Karena kehilangan daya dan fitrahnya”
Sejak awal, puisi ini tidak bicara tentang kematian, tapi mengenai kehilangan daya hidup—tentang manusia yang masih bernapas tapi merasa tak hidup lagi. Baris itu seperti cermin diri sendiri.
Saat kita masih berjalan, bekerja, tersenyum, tapi di dalamnya tak ada getar yang nyata.
Puisi ini bergerak dari hampa menuju makna, dari beku ke getaran. Dan yang memulihkan hidup itu bukan filsafat, bukan ideologi tapi kehadiran seseorang yang dicintai.
“Tetapi, Ma, setiap kali menyadari adanya kamu di dalam hidupku ini, aku merasa jalannya arus darah di sekujur tubuhku… hidup menjadi nyata, fitrahku kembali.”
Sederhana, tapi tersimpan ledakan keinsafan. Manusia tak hanya berpikir. Tapi juga merasakan. Rendra menemukan kembali fitrah-nya melalui cinta, melalui kehadiran yang membuat tubuhnya berdarah kembali, yang mengembalikan makna paling dasar dari hidup.
Ketika Rendra menulis “fitrahku kembali,” itu bukan hanya metafor religius yang kering, tapi peristiwa biologis juga spiritual. Tubuh, jiwa, dan cinta bertemu dalam satu titik yang disebut hidup. Rendra tahu, fitrah bukan sesuatu yang ditemukan di langit, tetapi di dada manusia, di bau kulit kekasih, di suara tukang kebun, di cicak yang berbunyi di tembok.
Kita tahu, puisi ini lahir di Jakarta, Juli 1992 di tengah kota yang berisik, di masa ketika basa-basi menjadi budaya dan kesunyian dianggap aneh. Rendra melihat dunia di sekelilingnya cemar oleh formalitas, oleh pertengkaran tanpa persoalan, oleh percintaan tanpa asmara.
“Hidup cemar oleh basa-basi,
dan orang-orang mengisi waktu dengan pertengkaran edan yang tanpa persoalan,
atau percintaan tanpa asmara, dan sanggama yang tidak selesai.”
Rendra seperti menulis untuk masa depan kita hari ini: zaman yang sama bisingnya, sama lemahnya, sama kehilangan arah. Dan di tengah kebingungan itu, puisi Hai, Ma! hadir sebagai pengingat bahwa di luar segala hiruk pikuk, masih ada ruang di mana manusia dapat kembali menjadi manusia.
Ketika Rendra berkata:
“Langit di luar, langit di badan bersatu dalam jiwa,”
Rendra sepertinya telah mencapai puncak kesadaran spiritualnya. Pasase itu terdengar seperti zikir, seperti kesaksian seorang sufi yang menyadari Tuhan tak pernah jauh. Ia bersemayam di dalam diri, dalam cinta, dalam hidup, dalam tubuh yang tergetar oleh rasa syukur.
Dalam Hai, Ma!, Rendra menemukan kembali apa yang ia cari sepanjang hidupnya. Bukan keabadian, tapi kehadiran. Bukan kemenangan, tapi hubungan. Rendra menulis bukan untuk menasihati, tetapi mengingatkan kita—bahwa fitrah manusia bukanlah kesempurnaan, melainkan kesanggupan untuk hidup dengan penuh kesadaran.
Buat saya, puisi ini tak hanya kisah cinta, tetapi kisah pertobatan seorang manusia dari kelelahan dunia. Dan setiap kali saya mendengar suaranya dalam video itu, saya merasa sedang diajak pulang. Iya. Pulang ke tempat paling sederhana, paling sejati, diri sendiri. Tempat di mana hidup kembali bermakna.
Teluk Buli, 2025