
Puisi-puisi Afrizal Malna kerap membuat pembaca merasa seperti tersesat di antara benda-benda. Tidak ada narasi utuh, tidak ada tokoh utama, bahkan kadang tidak ada “aku”. Tapi justru dari kekacauan benda-benda itulah muncul satu dunia baru: dunia yang tidak berpusat pada manusia.
Ambil saja puisinya “Benda-Benda Pos di Siang Hari“. Di sana, Afrizal menulis tentang benda-benda yang saling memberi bingkai pada wajah sendiri, Coca-Cola yang “tidak membawa mereka ke mana-mana”, hingga spiker yang menunggu peristiwa di pinggir jalan. Benda-benda ini seperti hidup dalam dunianya sendiri. Mereka tidak lagi menjadi properti manusia, tapi hadir sebagai makhluk yang mandiri—diam, tapi aktif.
Dalam dunia filsafat kontemporer, pendekatan macam ini dikenal dengan Object-Oriented Ontology . Gagasan ini dipopulerkan oleh filsuf Amerika, Graham Harman, dan dikembangkan lebih lanjut oleh tokoh-tokoh seperti Ian Bogost. Meski Afrizal tidak secara eksplisit menyebut nama-nama filsuf Object-Oriented Ontology, puisinya memperlihatkan resonansi kuat dengan cara pandang ini.
Dalam Alien Phenomenology, 2012, Bogost mendorong kita untuk membayangkan: “Bagaimana rasanya menjadi benda?” Menurutnya, setiap objek—entah itu cangkir kopi, sepatu, atau botol—punya cara sendiri mengalami dunia. Benda-benda yang ada bukan karena manusia menyadarinya. Mereka punya hak eksistensial sendiri, punya “hidup” yang tidak bergantung pada kesadaran manusia.
Afrizal, dalam puisinya, menangkap gagasan ini dengan sangat puitis. Spiker di pinggir jalan bukan sekadar alat pengeras suara. Ia “menunggu”. Coca-Cola bukan lagi minuman, tapi benda yang tak membawa siapa-siapa. Benda-benda itu tidak menjelaskan dirinya kepada kita—dan mungkin memang tidak perlu.
Bahkan, di akhir puisi, suara manusia terdengar gamang: “Siapa kami, di sini, tanpa kabar, membayangkan dunia lain tanpa stempel dan sidik jari.” Afrizal seperti membalik posisi: manusia kini yang kehilangan makna, tersesat di tengah tumpukan benda yang tidak lagi tunduk padanya.
Dalam konteks ini, puisi Afrizal menjadi semacam latihan filsafat. Ia mengajak kita melepaskan cara lama melihat dunia sebagai sesuatu yang berpusat pada manusia. Ia menempatkan benda sebagai tokoh, sebagai aktor yang punya kehendak dan sejarah sendiri. Seperti kata Bogost, ini bukan hanya imajinasi liar, tapi cara baru menghargai dunia yang lebih luas dari kesadaran kita sendiri.
Jadi, lain kali saat kamu melihat sepotong payung patah, remote TV yang kehabisan baterai, atau kardus tua di pojok gudang—jangan buru-buru membuangnya. Bisa jadi, mereka sedang membaca puisi yang tidak kita mengerti.
