Pesan Tersembunyi Peletakan Batu Pertama

Pada suatu siang, 29 Juni 2025, di Tanjung Buli Halmahera Timur, sebuah seremoni diabadikan dalam gambar, berseliweran di jagad maya. Dua ekskavator berdiri berhadapan. Bucket-nya terangkat, seperti tangan ingin bersalaman, atau barangkali seperti gigi yang siap menggigit bumi.

Di depan mereka, deretan orang: pejabat, pengusaha dan perwira. Mereka berdiri, sebagian tersenyum tipis, sebagian tampak kaku. Semua mengenakan kemeja putih. Bersih. Rapi. Tanpa noda.

Di sisi kiri dan kanan, deretan bendera merah putih berkibar. Lima di kiri, lima di kanan. Simetri, nyaris sempurna. Negara hadir. Sangat hadir.

Lalu, di latar belakang: truk-truk tambang, alat berat. Dan kabut.

Gambar Tidak Netral

Roland Barthes, dalam Mythologies, 1957, mengajarkan kita: tak ada gambar yang polos. Setiap gambar membawa mitos. Membawa tafsir. Membawa ideologi.

Maka, gambar ini tak hanya dokumentasi. Ini adalah teks. Ia berbicara tentang kuasa. Tentang hubungan manusia dengan tanah, dengan mesin, dengan negara. Dua ekskavator adalah tanda. Signifier. Penanda. Ia bukan hanya alat berat. Ia lambang kuasa industri. Tangan besi yang siap membongkar tanah, mengekstraksi isi bumi, dan mengubahnya menjadi angka-angka dalam neraca ekonomi.

Barisan bendera itu adalah legitimasi. Negara berdiri bersama industri. Merah putih itu bukan lagi lambang kemerdekaan, tapi juga apa yang akan terjadi—penggalian, pembuangan limbah, hilangnya sungai dan hutan—telah diberi stempel: sah!

Dan para pejabat berbusana putih itu? Iya, mereka adalah wajah-wajah kekuasaan yang ingin tampak bersih, netral, tanpa noda. Tapi putih itu, seperti kata Umberto Eco, adalah teks yang penuh makna. Ia adalah cara visual untuk mengatakan: “Kami melakukan ini dengan niat baik. Ini adalah masa depan.”

Apa yang Absen?

Tapi semiotika juga mengajarkan kita membaca apa yang tidak ada. Dalam gambar itu, tak ada hutan. Tak ada sungai. Tak ada laut. Tak ada tubuh nelayan. Tak ada petani.

Ketiadaan ini, menurut Jean Baudrillard, adalah bentuk simulasi. Alam dihapus. Komunitas dihapus. Yang tersisa hanya mesin, manusia berkemeja putih, dan bendera. Gambar itu menjadi dunia simulakra—dunia di mana hanya narasi pembangunan yang sah untuk tampil, sementara getir dan resah disingkirkan ke luar bingkai.

Paradoks

Mereka menyebut “transisi energi.” Mereka bilang ini bagian dari “ekonomi hijau.”

Di Karawang, pabrik baterai akan berdiri megah. Bersih. Steril. Tanpa polusi. Mobil listrik melaju tanpa asap knalpot. Dunia menyebutnya “zero emission.”

Tapi di Halmahera, sungai berubah warna. Dari bening menjadi merah karat. Dari air menjadi lumpur. Dari ruang hidup menjadi saluran limbah.

Di Karawang, masa depan adalah baterai. Di Halmahera, masa depan adalah tailing.

Batu adalah Kalimat

Mereka menyebutnya “batu pertama.” Tapi batu itu adalah kalimat. Kalimat yang berkata: “Tanah ini bukan lagi tanah.” Ia telah berubah jadi nikel. Jadi prekursor. Menjadi katoda. Jadi komoditas.

Semiotika mengajarkan kita bahwa setiap tanda membawa pertanyaan. Di batu itu, di bucket ekskavator itu, di bendera yang berdiri kaku itu—tertulis sebuah pertanyaan yang tak terjawab:

Apakah masa depan bisa disebut hijau jika ia dibangun di atas sungai yang memerah?

Apakah kemajuan adalah sesuatu yang netral, atau ia adalah jalan panjang yang—tanpa kita sadari—membawa kita ke hilangnya satu demi satu ruang hidup?

Gambar itu tak bicara mengenai sungai. Tak bicara tentang hutan. Juga tentang nelayan yang kehilangan lautnya. Tapi gambar itu pada hakikatnya, pada akhirnya, adalah puisi. Puisi yang sunyi. Puisi yang tidak ditulis dengan kata, tapi dengan alat berat, bendera, dan tubuh-tubuh kuasa.

Dan seperti semua puisi, ia menunggu untuk dibaca. Dengan mata yang waspada. Dengan pikiran yang tak tunduk pada apa yang tampak.

Teluk Buli, Awal Juli 2025

Dapatkan tulisan baru Suluk Kata lewat surel:

Tulisan lain