Nikotin

Keyboard lelah menampung huruf-huruf, sebungkus rokok. Sampoerna Mild. Aksara merah percaya diri. “Bikin Mustahil Jadi Hasil.” 
Seolah rokok adalah mantra yang mampu mengubah kekacauan menjadi rencana, kegagalan jadi prestasi.

Tapi, tubuh diberi peringatan: “Merokok menyebabkan kanker paru.”
Sebuah pengakuan pahit yang selalu hadir, tapi mugkin tak selalu dibaca.

Laptop dan rokok adalah sepasang benda yang akrab di meja kerja banyak orang. Mungkin mereka tidak saling mencintai, tapi terpaksa saling melengkapi. Yang satu mengetik ide, yang satu membakar waktu. Di antara keduanya, tubuh menjadi penghubung yang perlahan-lahan usang.

Rokok tak pernah sepenuhnya candu. Kadang jadi teman, kadang pelarian. Kadang hanya jeda—antara satu pikiran dan pikiran berikutnya. Antara satu naskah yang belum selesai dan hari yang tak bisa ditunda.

Di ruang sunyi itu, ada seseorang yang menulis sambil menghisap udara yang tak lagi bersih. Ia tahu peringatan di bungkus itu benar. Tapi ia juga tahu, tak semua peringatan bisa mencegah keinginan untuk terus menulis. Terus begadang. Terus hidup, dengan cara yang ganjil tapi nyata.

Dan begitulah—di balik asap, kata-kata mengalir. Meski pelan. Meskipun perih.

Teluk Buli, 2025

Dapatkan tulisan baru Suluk Kata lewat surel:

Tulisan lain