“Puisi ini menarik karena ia menggugat klise nostalgia yang sering muncul dalam puisi “pulang kampung.” Ziarah Tembuni tak hanya ritual ke makam leluhur, tapi juga perjalanan menengok tembuni, bagian diri yang dikubur bersama tanah kampung.”

Kita mungkin pernah mendengar mitos kecil itu: plasenta bayi. Jawa menyebut tembuni. Halmahera sebut dodomi. Dikuburkan dengan khidmat di halaman rumah saat seorang anak lahir. Di situ ia dipercaya membusuk menyatu dengan tanah, atau dalam beberapa keyakinan lokal, gaib entah ke mana. Orang-orang tua menyebutnya “saudara kembar” yang tak pernah tampak, yang tetap tinggal ketika kita berjalan jauh, bahkan ketika kita tak pernah kembali.
Tapi apakah tanah itu selalu menunggu kita?
Membaca puisi “Ziarah Tembuni,” saya teringat pada rasa yang ganjil: pulang ke kampung sendiri, lalu merasa seperti orang asing. Puisi ini membuka kumpulan Ziarah Tanah Jawa buah pena Iman Budhi Santosa, diterbitkan Intan Cendekia, 2013. Buku itu menyimpan aroma tanah: halaman demi halaman berisi bait-bait lirih tentang identitas, kerinduan, dan alienasi.
Puisi Ziarah Tembuni, kita disuguhi aroma wijayakusuma di malam hari, pot berlumut di sudut halaman, pagar yang hening dan ramah. Semuanya tetap ada, seperti dulu, tetapi terasa lain. Setiap halaman tak pernah berteriak, tetapi diamnya seperti tuduhan,
"Mengapa sekarang engkau merasa jadi tamu?"
Di situ letak kekuatan puisi ini: bukan cerita sentimental mengenai pulang, tapi pada kegagapan seorang anak yang menyadari kampung halaman tak hanya rumah, tetapi ruang yang diam-diam menyimpan ingatan kita baik lembut maupun yang keras.
Iman Budhi, penyair yang sepanjang hidupnya dekat dengan tradisi Jawa, di sini memakai tembuni sebagai pusat makna. Ia menyarankan akar identitas kita tak hanya kenangan tentang orang tua, halaman, atau dongeng Ramayana. Akar itu, seperti tembuni, juga bagian tubuh kita yang dikubur, yang mungkin telah lama kita lupakan, tetapi tak pernah benar-benar hilang.
Tetapi puisi ini juga menawarkan kritik pada kita yang pergi dan kembali dengan tubuh yang berubah. Sebab yang hilang bukan hanya kita, tapi juga kampung itu sendiri: siapa tahu halaman sudah bukan lagi halaman, batu-batu sudah bukan lagi batu yang dulu, dongeng-dongeng hanya tinggal sepotong kisah yang diceritakan hanya oleh beberapa orang.
Ada yang getir dalam sikap si aku lirik ketika mencabut rumput teki dari makam leluhur. Rumput yang tumbuh di antara nama-nama yang pernah mendongengkan Nabi dan Mahabharata, seakan menegaskan bahwa kita memang pernah nakal, pernah lari, pernah lupa. Maka mencabut rumput itu adalah juga mencabut keterasingan sendiri, sebuah cara berkata: aku masih bagian dari kalian.
Puisi ini menarik karena ia menggugat klise nostalgia yang sering muncul dalam puisi “pulang kampung.” Ia tidak larut dalam romantisme. Justru menunjukkan bahwa pulang juga bisa berarti berhadapan dengan diri sendiri, dengan rasa bersalah, bahkan dengan kematian kecil yang kita simpan di halaman rumah.
Dan mungkin itulah mengapa, seperti ditulis di bait akhir,
“dengan keringat di dahi kucium kembali tanah itu.”
Karena tanah itu tak hanya tempat. Ia menjelma tubuh kita sendiri. Atau barangkali: tembuni yang diam-diam tetap hidup di sana, menunggu kita ziarah padanya.
Jogja, 2016
