Cincin Itu

Jemarinya tak mengepal, kadang mengibas di hadapan pecintanya. Ia lebih sering menggenggam sunyi dengan tafakur yang dalam, menahan kata, menyentuh waktu.

Di sana, sebuah cincin bertakhta pada jari seorang lelaki yang sejak awal revolusi Iran hingga senja abad ke-20, dan kini abad ke-21, berdiri di tengah riuh dunia yang tak pernah sepenuhnya ramah pada kesunyian: Ayatollah Ali Khamenei.

Cincin itu tak hanya hiasan. Di dalamnya, mungkin tergores nama Imam Jawad atau serpihan tanah Karbala. Sebagian batu mungkin berasal dari Najaf, dari Mashhad, dari medan yang dulu dipijak oleh kaki-kaki yang berjalan menuju pengasingan atau kemartiran. Ada akik kuning dengan inskripsi Hirz-e Sharf al-Shams—sebuah talisman kuno yang dipercaya memuat doa langit dan hikmah diturunkan tak untuk dibaca, melainkan direnungkan.

Kita mungkin bertanya: mengapa pemimpin spiritual seperti Khamenei memakai ragam cincin? Dalam sejarah Islam, terutama di jalur Syiah, cincin adalah bagian dari warisan sunah.

Rasulullah disebut mengenakan cincin perak bertuliskan Muhammad Rasulullah. Ali bin Abi Thalib, sang pintu ilmu itu, mengenakan akik yang kemudian menjadi lambang dari jalan rohani yang tegar juga halus.

Para Imam sesudahnya tidak meninggalkan cincin begitu saja. Mereka menjadikannya semacam warisan tafsir dalam bentuk benda.

Tangan Ayatollah itu bukan tangan yang ringan menunjuk musuh, tapi yang lembut saat memutar tasbih. Ia tahu, kekuasaan yang abadi hanya milik Allah semata. Maka cincin di jarinya itu semacam peringatan. Ia memanggul sejarah tak sebagai beban, tapi sebagai napas.

Di satu zaman yang haus akan keterbukaan dan kecepatan, di mana segala hal ingin ditampilkan tanpa selubung, cincin-cincin itu justru menyimpan. Ada yang hanya bisa dimengerti lewat sunyi panjang, lewat tatapan anak-anak muda yang mencium tangan itu di lorong-lorong Qom dan Tehran.

Karena kita tahu, sejarah tak hanya yang ditulis, kadang ia adalah apa yang dipakai, disimpan, dan dilupakan dengan sengaja. Maka tak heran bila kita melihat, dalam satu majelis, tangan itu diam di dada, mengangguk, tapi dalam gestur itu ada berabad-abad kerendahan hati. Ia adalah tangan yang pernah terluka dalam percobaan pembunuhan 1981, dan mungkin dari luka itu pula ia tahu: yang abadi bukan tubuh, tapi jiwa, tapi sikap.

Kini cincin-cincin itu seperti aksara tak terbaca. Tapi justru karena itu, ia menyimpan. Dan dari penyimpanan itu, kita diingatkan: tak semua perlu dijelaskan. Ada hal-hal yang cukup disaksikan—seperti batu kecil di jari seorang Imam, yang menandai zaman tidak dengan teriakan. Tapi dengan aktif, mengakar.

Maka tangan itu. Jemari itu. Tanpa kata, sedang mengajak kita mengingat kembali—melalui benda-benda kecil yang menyimpan semesta makna. Melalui batu yang pernah disentuh doa, melalui cincin yang tak bersuara tapi menyuarakan zaman. Sebab, di dunia yang cepat melupakan, ada cincin yang memilih menahan lupa.

Teluk Buli, 2019

Dapatkan tulisan baru Suluk Kata lewat surel:

Tulisan lain